MENU

Rabu, 18 Maret 2020

Ulama Menjelaskan Hadist Nabi Muhammad Soal Wabah Penyakit sudah Ada Sejak 14 Tahun Silam



Dalam Shaih Bukhari dan Muslim diriwayatkan, Amir bin Saad bin Abi Waqqash, dari ayahnya bahwa dirinya pernah mendengar sang ayah bertanya kepada Usamah bin Zain, "Apa hadist yang pernah engkau dengan dari Rasulah soal wabah thaun?"





Usama menjawab dengan lantang, "Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, jangan kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu." (HR Bukhari-Muslim).

Masih dalam Shahih Bukhari dan Muslim, diriwayatkan oleh Hafshah binti Sirin bahwa ia menceritakan, Anas bin Malik pernah berkata, "Rasulullah bersabda; Orang yang mati karena wabah thaun adalah orang yang mati syahid."


Thaun merupakan jenis penyakit, menurut kitab yang berjudul Ath-Thubb an-Nabawi  dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Tetapi menurut kalangan medis, thaun ini pembekakan parah yang mematikan, gejalan membuat rasa haus dan dahaga yang parah dan rasa sakit luar biasa. Tubuh seseorang akan menjadi hitam, hijau atau abu-abu jika terkena wabah thaun.




Kemudian akan muncul nanah dan menyerang tiga bagian di tubuh, adalah belakang telinga, ujung hidung dan bagian daging yang lunak. Dalam Hadis HR-Ahmad nabi juga menjawab wabah thaun, "Benjolan yang mundul seperti yang dialami oleh unta, tumbuh di bagian belakang ketiak dan sejenisnya."

Larangan Nabi Muhammad kepada umatnya agar tidak masuk ke lokasi terjadinya wabah mempunyai beberapa hikmah, seperti menjauhkan diri dari berbagai hal membahayakan. Mencari keselamatan yang merupan materi kehidupan dunia dan akhirat. Agar tidak menghirup udara yang tercemari, dan agar tidak berdekatan dengan orang yang sakit karena nanti mereka bisa sakit juga seperti yang diderita oleh orang-orang sebelumnya. Selain itu untuk menghindari tertular. Terakhir untuk menjaga jiwa dari pikiran-pikiran buruk. (NPD)

Sumber foto dan berita :
Republika.co.id

Tidak ada komentar :

Posting Komentar